Andi yang sudah selesai mem-packing semua barang dan mereka pun
berpamitan kepada pak giran dan ibu dan mereka juga tak lupa untuk
berpamitan dengan warga desa. Andi yang tadi juga telah menemui risma
untuk melepas perpisahan di antara meraka. Mereka pun kini berangkat
untuk kembali ke rumah dimana mereka akan menjalani hidup dengan
rutinitas biasanya namun ada yang berbeda dengan rina yang pada saat
datang kala itu dengan rina yang pulang kali ini.
Tergambar jelas raut wajah yang sedih di balik senyum tipisnya, rina
merasakan separuh jiwanya harus tinggal di desa ini. Saat rina menaiki
mobil kembali terlihat air mata menetes dari sudut pelupuk matanya yang
menggambarkan ketidakinginan dirinya untuk pergi dari desa ini dan lebih
tepatnya adalah dia tak ingin jauh dari pak giran. Rina melangkahkan
kaki ke dalam mobil dengan kegundahan hati, ingin rasanya ia berbagi
untuk mengurangi kegundahan hatinya tapi tak mungkin kalau ia harus
menceritakan kegundahan hatinya kepada andi yang mana akan menambah luka
di hati suaminya.
Mobil melaju dengan tak terlalu kencang yang mana andi menyempatkan diri
menegur warga pada saat dia melintas jalanan pulang. Anak-anak yang
duduk di belakang dengan muka ceria seakan bahagia menjalani liburan
kali ini.
“yah.. kapan-kapan kita balik lagi ya ?” ujar adit.
“pasti nak.. kita akan balik lagi kok” jawab andi dengan senyum sembari melirik ke arah rina.
Andi yang tadi sempat bertukar no telp dengan risma agar mereka bisa
saling berkomunikasi saat andi sudah berada di kota. Tanpa sepengetahuan
rina, andi telah berbicara kepada ibu pak giran bahwa akan memboyong
mereka, bapak dan ibu untuk tinggal di rumah mereka yang mana akan
bekerja mengurus rumah andi. Andi juga mengatakan kepada ibu agar jangan
menyampaikan terlebih dahulu kepada bapak atau rina akan perihal ini,
yang mana biar menjadi kejutan bagi rina kelak.
Andi memang tidak akan menjemput pak giran dan ibu tapi dia akan meminta
supir kantornya untuk menjemput mereka pada waktu yang telah di
tentukan andi. Semua itu terpikirkan oleh andi setelah malam pertama
andi memergoki rina dan pak giran bercinta di balai samping rumah.
Semenjak kejadian itu andi merasakan bahwa dia telah gagal memberikan
kebahagian kepada rina yang mana rina telah menjadi istri terbaiknya
selama mengarungi bahtera rumah tangga. Pada saat itulah andi menjumpai
buk giran untuk mencurahkan seluruh isi hati yang mengganggu pikirannya
yaitu kejadian yang tak pernah terencana oleh rina maupun pak giran itu.
Nasihat maupun perkataan bijak yang berasal dari buk giranlah yang
membuat andi akhirnya berpikir untuk memberikan sedikit kebahagian yang
tak rina dapatkan darinya selama ini. Bukan kata cerai atau marah yang
terlontar dari andi tapi andi merestui hubungan mereka yaitu antara pak
giran dan rina. Andi bisa merasakan bagaimana kasih sayang yang di
salurkan pak giran untuk rina benar-benar sebuah rasa kasih sayang bukan
berlandaskan nafsu semata. Andi yang memang tidak mengharapkan
perceraian yang mana akan merusak psikologi anak-anaknya yang sedang
dalam masa perkembangan lagi pula kedua anak-anaknya, yaitu adit dan
nisa juga menyayangi pak giran sebagaimana pak giran menyayangi mereka.
Jadi, andi pun berkesimpulan bahwa inilah satu-satunya cara untuk
memberikan kebahagian kepada rina dan dia tetap memiliki rina secara sah
sebagai istrinya.
Andi melirik rina yang sedari tadi hanya terdiam dengan raut wajah yang
agak murung, andi yang paham terhadap sikap rina dan kenapa raut
wajahnya sedih sembari tersenyum mengingat apa yang akan dilakukan
olehnya kelak andi dengan lembut mengelus rambut panjang rina yang mana
andi sangat menyayangi wanita cantik yang telah setia menemaninya dan
telah memberikan dua malaikat kecil yang sempurna bagi kehidupannya.
Rina yang menerima elusan lembut dari andi makin membuatnya tertunduk
dan tanpa sadar kembali meneteskan airmata. Mobil terus melaju dengan
konstan membelah jalanan yang lumayan padat oleh pengendara lain yang
juga searah dengan andi karena berhubung habis liburan dan terlihat
beberapa truck yang menghiasi jalanan. Andi melirik sejenak ke belakang
dimana adit dan nisa yang sudah tertidur pulas sembari tergambar senyum
di wajah mereka.
“tuh anak-anak aja pada bahagia, masa’ sih mamanya sedih terus?” andi mencoba memecah kesunyian dengan cara menggoda rina .
“gak lah yah.. mana sedih.. mama juga bahagia kok.. Cuma.. yaaaa” ujar rina yang masih tertunduk.
“tuh di tekuk aja mukanya dari tadi.. ya ayah paham kok ma apa yang
menjadi kesedihan mama” ujar andi sembari meraih dagu rina dan
mengangkat wajahnya hingga memberikan sebuah kedipan mata.
Rina kemudian meraih tangan andi dan menggenggam tangan itu sembari
tersenyum dan tanpa dia sadari matanya kembali meneteskan airmata. Rasa
bersalah kembali menyerang dirinya atas apa yang telah ia lakukan kepada
andi.
“mama ngaku salaaah yah.. mama udah ngelakuin suatu kesalahan
terbesar dalam hidup mama.. mama gak pantas lagi jadi istri ayah..”
ujarnya dengan suara tertahan dan diikuti isak tangis.
“udah ma.. ayah udah maafin kok.. mama tenang ya.. ayah gak apa-apa..
ayah udah tahu semuanya..” ujar andi mempererat genggamannya pada tangan
rina yang mana ingin memberikan keyakinan pada rina bahwa dia baik-baik
saja.
“tapi mama malu yah ... mama bukan lagi seperti yang dulu.. mama udah
merusak kehormatan mama sebagai istri ayaah.. mama udah mengkhianati
ayah...” ujar rina yang masih terisak-isak.
“mama tetap istri ayah yang dulu.. gak ada yang bisa merubahnya.. mama
tetap istri ayah yang the best dan ibu terbaik yang di miliki oleh adit
dan nisa..jadi sekarang ayah minta mama jangan memikirkan hal yang
bukan-bukan .. ayah mau mama kembali bahagia dan ayah akan melakukan apa
pun untuk itu...” ujar andi lembut dan tegas.
Rina yang mendengar jawaban andi langsung berhamburan ke dalam pelukan
andi, andi menyambut pelukan rina dengan tangan kirinya,rina pun
menenggelamkan mukanya di dalam dada andi sembari andi mengelus rambut
rina dengan lembut dan mendaratkan kecupan mesra di ubun-ubun rina yang
mana andi ingin menenangkan hati rina yang gundah. Rina sejenak kembali
pada keadaan semula kala dia berangkat ke desa ini yang mana senyum dan
tawanya menghiasi dirinya.
“terima kasih.. yah....” rina tersenyum sembari mengecup mesra pipi andi.
Rina yang sudah kembali membuat andi menjadi tenang dan menyetir dengan
tanpa beban. Sekitar tiga jam-an mereka melintasi jalanan membuat andi
lelah dan perutnya pun ikut lapar hingga andi memutuskan untuk
beristirahat sejenak sembari mengisi perutnya yang lapar. Setelah
melihat tempat yang dirasakan oleh andi ini cocok untuk keluarganya,
andi pun membelokkan mobilnya masuk ke area tempat makan tersebut.
Tempat makan ini berasa classic walau terlihat masih sepi namun
sekitaran tiga mobil telah terparkir di halaman rumah makan itu. Rumah
makan ini menawarkan suasana alam dimana berasal dari hamparan sawah dan
pepohan rindang yang terlihat di sekitaran tempat makan itu. Mungkin
karena masih berada di daerah pendesaan yang jaraknya hampir sejam-an
bila dari kota. Andi, rina dan kedua anaknya pun turun dari mobil menuju
ke dalam rumah makan ini. Andi memilih tempat di pojokan dimana
terdapat tempat makan yang berbentuk lesehan dan menawarkan view yang
lebih indah.
Pemilik warung pun datang menghampiri meja mereka, pemilik warung yang
terlihat sudah berumur ini mulai memberikan daftar menu. Pemilik warung
berdiri tepat di samping rina ini mendapatkan suguhan pemandangan yang
indah yaitu pemandangan lereng bukit payudara rina yang mana rina saat
ini memakai baju kemeja dengan dua kancing atas telah terbuka dan di
padu dengan celan jeans yang membentuk jelas di bagian paha dan pantat
montoknya. Setelah selesai memilih makanan dan minuman mereka pun
menyerahkan kembali kepada pemilik warung dan mereka pun menanti hidang
yang akan segera di suguhkan.
Terlihat yang berada di dapur seorang ibu-ibu sedang memasak pesanan
andi dan keluarga dengan telatennya yang di bantu oleh dua ibu-ibu
lainnya dan seorang gadis yang masih berumur dua puluhan sementara
lelaki pemilik warung beserta dua orang lelaki berusia tanggung
membantunya membuatkan minuman pesanan andi dan keluarga. Tak butuh lama
waktu untuk menunggu, kini hidangan yang mereka pesan pun hadir
menghiasi meja makan andi dan keluarganya yang mana siap untuk di
santap.
Terlihat rina selesai terlebih dahulu daripada andi dan kedua
anak-anaknya. Rina yang memang tidak terlalu banyak ini kemudian duduk
sejenak menikmati view pemandangan dan memotret menggunakan kamera
hpnya. Sesaat kemudian rina memutukan ke kamar mandi untuk buang air
kecil karena sudah kebelet. Rina pun melangkah ke arah lelaki tua
sembari menanyakan dimana letak kamar mandi dan langkah kaki rina pun
menuju ke arah yang ditunjukkan. Mata lelaki tua itu tak lepas dari
pantat montok rina yang di balut celana jeans keta yang mana sedikit
bergoyang saat rina berjalan. Karena terlalu asyik memandang pantat
montok rina tanpa terasa membuat sesuatu di selangkangan lelaki itu
mengeras di balik celana kainnya.
Rina yang sedang di kamar kecil tanpa sepengetahuannya sedari tadi ada
sepasang mata yang sedang mengawasi dirinya. Sepasang mata yang sedang
mengintip rina ini adalah milik lelaki tua pemilik warung yang mana
secara diam-diam mengikuti rina ke kamar mandi. Rina yang tak menyadari
ada orang di balik pintu dengan santainya ia pun berjongkok mengarah ke
arah pintu kamar mandi yang mana di balik pintu itu sudah ada sepasang
mata yang menanti dan menikmati pemandangan vagina rina yang terpampang
bebas.
Di balik persembunyiannya lelaki tua yang sudah terangsang hebat kini
sedang menggenggam penisnya sendiri yang mana celana kainnya sudah
tergantung di lutut. Rina yang sudah selesai buang air kecil pun ikut
mencuci mukanya sejenak terasa segar dengan air dingin yang berasal dari
pengunungan. Rina yang masih tidak menyadari bahwa sudah ada bahaya
yang menantinya di balik pintu melangkah dengan santainya. Saat pintu
terbuka, lelaki tua itu pun hadir dengan sebilah pisau di tangannya
kemudian di arahkan ke leher rina, lelaki tua itu mengancam rina sembari
masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci kembali pintu dari dalam.
Rina yang ketakutan hanya bisa berdiam diri dan tak berani melawan saat
lelaki tua itu mulai memeluknya. Lelaki tua itu memeluk rina dari arah
belakang sembari tangannya mengarahkan pisau ke leher rina.
“jangan berteriak!! Atau aku bunuh kamu!!” ancam lelaki tua itu.
Tubuh rina yang gemetaran di dalam pelukan lelaki tua itu hanya bisa
terdiam dan terisak-isak karena tak tahu harus bagaimana. Lelaki tua itu
mulai mengesekkan penis tegangnya yang berada tepat di pantat montok
rina sembari dengan kasarnya meremas kedua payudaranya silih berganti.
Tak butuh waktu lama lelaki tua itu membuka resleting celana jeans yang
dikenakan oleh rina dan menurunkan celana beserta celana dalamnya
sekaligus. Terlihat di bagian tengah celana dalam rina ada bercak basah
yang berasal dari vaginanya.
Lelaki tua yang menyadari hal itu dengan kasar jarinya mengelus vagina
rina sembari memasukan salah satu jarinya ke dalam vagina rina. Tak
butuh lama, rina yang memang sudah haus akan sexs ini pun sampai ke
ambang orgasmenya yang di sambut oleh senyum tipis di bibir lelaki tua
itu. Tanpa membuang banyak waktu lelaki tua itu meraih penisnya dan dari
arah belakang penis lelaki tua itu mengarahkan ke bibir vagina rina
yang mana vagina rina sudah siap untuk di eksekusi.
Blesh!!
Penis lelaki tua itu masuk dengan nyamannya di lorong vagina rina yang
sudah basah oleh cairan vaginannya sendiri dan siap untuk di genjot.
Pinggul lelaki tua itu mulai bergoyang dengan kasar menghujamkan penis
hitamnya ke dalam vagina rina, terdengar desahan kecil dari bibir rina
yang mana tubuh rina memang sudah menikmati dan mengingkari hatinya yang
menolak. Tanpa terasa pinggul rina kini ikut bergoyang mengikuti
hujaman kasar penis lelaki tua sembari kedua payudaranya di remas dengan
kasar yang di ikuti ciuman kasar dari bibir lelaki tua itu.
Pinggul lelaki tua itu makin mempercepat goyangannya yang mana lelaki
tua hampir sampai di ambang pintu puncak gairah birahinya yang di sambut
pula oleh goyang pinggul rina yang membuat lelaki tua semakin
bersemangat mengenjot rina. Sekitar sepuluh menit terasa pinggul lelaki
tua itu menghentakkan penisnya ke dalam vagina rina sembari tangan rina
meremas dan menahan sejenak pantat lelaki tua itu yang mana entah sejak
kapan tangan rina sudah berapa di sana. Mereka meraih puncak secara
bersamaan, terlihat sperma lelaki tua merembes dari celah vagina rina
jatuh ke bawah, sesaat kemudian lelaki tua itu melepaskan penisnya
sembari mengecup kening rina.
“pakek lagi tuh celana dan cepat balik sebelum suami kamu nyariin”
ujar lelaki tua itu tanpa merasa bersalah telah memperkosanya.
Memperkosa ?
Hei kamu juga ikut menggoyangkan pinggul, kamu menikmati persetubuhan
singkat itu! Apa itu disebut pemerkosaan? Rina hanya tertunduk dan
meneteskan airmata sembari memakai celananya yang mana vaginanya masih
berisikan sperma lelaki tua itu.
Rina melangkah dengan senyum terpaksa saat langkahnya sudah mendekati
meja makan mereka. Andi hanya tersenyum serta adit dan nisa yang kembali
tertidur di lantai lesehan karena kekenyangan.
“kok lama, ma ?” ujar andi
“tadi mama tiba-tiba sakit perut yah.. ya sekalian aja terus..” ujar rina sembari memegang perutnya.
Mereka pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan yang menyisakan waktu
sekitar satu jam setengah. Andi dan rina menggendong adit dan nisa,
langkah kaki rina yang disertai senyum tipis di bibir lelaki tua itu
yang di ikuti oleh lirikan ke pantat montoknya. Mobil pun melaju
meninggalkan area parkiran serta meninggalkan sebuah kisah sexs singkat
rina dan lelaki tua itu. Rina kini lebih memilih untuk tidur di dalam
mobil sembari melupakan kejadian yang terjadi di rumah makan itu.
oOo
to be continue
Home
Cerita Eksibisionis
Cerita Eksibisionis Istriku Rina
Penulis Lain
Cerita Eksibisionis Istriku Rina : Di Balik Sebuah Cerita 12
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar:
Posting Komentar