Minggu sore yang agak mendung, tetapi banyak orang berolahraga di jalan.
Warung kami tutup di hari minggu, jadi aku banyak waktu untuk
mengerjakan sesuatu yang aku inginkan seharian ini.
Mama baru saja selesai mencuci piring kotor dari hari kemarin yang
sempat terbengkalai. Mama tetap sibuk walau di hari minggu atau hari
libur. Jadi aku berencana untuk mengajak mama bersenang-senang sejenak.
“Ma kita olahraga di luar yuk,” kataku.
“Sekarang?” tanya mama curiga. “Mama beres-beres dapur dulu.”
Aku melamun menunggu mama. kalau tidak salah, Boni sering mengajak
ibunya berolahraga di lapangan setiap minggu sore. Ini bisa menjadi
kesempatan bagus kalau ia beneran ada di lapangan.
“Pakai baju olahraga ya ma,” kataku.
“Iya nak,” sahut mama dari dapur.
Beberapa lama kemudian mama sudah keluar dengan mengenakan kaos putih
dan celana legging berwarna kuning. Kaosnya terlihat begitu sempit
sampai-sampai sedikit terangkat akibat menahan keduapayudaranya.
Rambutnya diikat ekor kuda, dan ia juga mengenakan sepatu joggingnya
yang terlihat baru karena jarang dipakai. “Mama juga sudah lama tidak
berolahraga,” katanya sambil membetulkan ikat rambutnya.
Kami pun berlari-lari kecil menuju lapangan. Mungkin karena sudah
terlalu sore, hanya beberapa orang saja yang masih terlihat berlari-lari
di tepi jalan. Aku berlari di belakang mama sambil memperhatkan
pantatnya yang bergoyang setiap kali ia bergerak. Ini jelas kurang seru.
“Berhenti sebentar ma,” seruku dari belakang. Mama menghentikan larinya. “Ada apa?” ia bertanya.
“Coba turunkan celana mama sampai pantat,” kataku.
“Itu lagi? Kamu masih mau mempermalukan mama?”
“Siapa yang berjanji untuk patuh?” aku menantangnya.
Mama menghembuskan napas panjang. Ia meraih karet celana leggingnya dan
menurunkan celananya sedikit di bawah pinggang. Aku cuma bisa melihat
kulit pinggangnya yang kecokelatan. “Segini saja ya?” ia membujuk.
“Itu apaan ma. Turunkan lagi.”
Ia menurunkan celananya lagi, kali ini sampai melewati setengah
pantatnya. Sempak hitamnya sampai terlihat setengah dari karet celana
leggingnya. Aku mengacungkan jempol. “Sip, itu yang aku mau,” aku
memuji.
Kami melanjutkan berlari. Aku bisa melihat belahan pantat mama yang
membayang dari sempaknya yang mengintip keluar dari celananya. Seorang
remaja yang kebetulan melintas melewati kami langsung bersiul menggoda
mama karena penampilan seksinya. Mama pura-pura tidak melihat. kami juga
berpapasan dengan dua ibu-ibu yang berada di arisan kemarin. Mereka
tersenyum ke mama lalu berbisik, “Itu kan ibu dan anak di arisan
kemarin. Coba lihat penampilannya, sempak kok dipamerin kayak lonte
saja.”
Mama berusaha acuh tak acuh meski ia bisa mendengarnya. Aku bergumam dalam hati: “Ini belum seberapa ma.”
Akhirnya kami tiba di lapangan. Sayangnya lapangan sudah sepi
pengunjung. Hanya ada seorang ibu dan seorang anak yang duduk di bangku
lapangan. Aku kenal dengan mereka berdua.
“Boni!” seruku memanggilnya. Anak itu menoleh dan mengayunkan tangannya.
Aku dan mama mendekati mereka. Baru kali ini aku melihat Ibu Boni
mengenakan kaos biasa dan celana olahraga seperti punya mama, hanya saja
warnanya ungu cerah. Keringat yang mengalir dari lehernya membuat kaos
putihnya transparan dan memperlihatkan bayangan payudaranya yang
terbungkus beha merah marun. Barangkali ukurannya 36 C? pikirku. Ia
lebih kurus dari mama, mungkin karena ia lebih tinggi juga dari mama.
Meski begitu, Ibu Boni tetap terlihat sangat aduhai.
“Wow ibu berani betul memelorotkan celana sebegitu ekstrimnya," komentar Ibu Boni saat melihat mama.
Mama tidak menjawab tetapi ia berusaha tersenyum. Aku membiarkan mereka
berdua saling berbicara dulu sementara aku mengajak Boni menjauh
sebentar.
“Jadi kapan aku bisa menjinakkan ibuku?” tanya Boni menggebu-gebu. ”Kamu
sudah lihat badannya kan? Siapa coba yang tidak nafsuan.”
“Iya iya aku tahu,” jawabku sabar. “Kalau beruntung, hari ini kita akan
membuat ibu kamu patuh kepadamu. Ibu kamu minum banyak air tadi?”
Boni berpikir sejenak lalu menjawab: “Sepertinya cukup banyak. Ada satu
liter lebih yang dia minum saat berolahraga tadi. Ia menunjuk ke toilet
umum yang letaknya tidak jauh dari tempat kami berdiri. “Biasanya dia
langsung pipis di wc itu kalau kebanyakan minum air saat olahraga,”
katanya lebih lanjut.
Aku menjelaskan rencanaku kepadanya. Boni membelalakan matanya. Tetapi
ia kemudian tersenyum-senyum sendiri seperti sedang memikirkan sesuatu
yang jahat.
Kami berdua segera masuk ke dalam toilet umum tersebut dan mencari
pengait tempat biasa orang manggantung celana. “Ada nih!” seru Boni.
Pengait pakaian itu menempel di pintu dan letaknya tinggi sekali bila
dibandingkan dengan tinggi kami berdua.
Tak kehabisan akal, aku meminta Boni untuk mengangkatku ke atas agar aku
bisa mencapai pengait tersebut. Boni menyanggupi. Aku pun naik ke
pundaknya dan berhasil! Aku bisa mencapai pengait sialan itu dengan
mudah. Aku coba melepas pengait itu dengan kedua tanganku. Syukurlah
tidak ada kendala yang berarti. Dinding toilet itu sudah lumayan berumur
sehingga pengait itu bisa kau cabut dengan mudah. Begitu aku berhasil
mencabutnya, aku dan Boni segera keluar dari toilet dan melempar pengait
itu jauh-jauh.
Benar kata Boni. Tak lama kemudian ibunya sudah berjalan menuju toilet.
Aku dan Boni menanti di luar dengan sabar. Sesuai dugaan, Ibu Boni tidak
bisa menemukan pengait untuk menggantungkan celananya dan ia pun
menggantungnya di atas pintu toilet yang memiliki celah lebar.
“Sekarang!” seruku. Boni bergegas mengambil celana ibunya. Melihat
celananya yang tiba-tiba raib di balik pintu, sontak saja Ibu Boni
berteriak marah dari dalam toilet.
“Siapa yang mengambil celanaku!” serunya murka.
“Aku yang mengambilnya,”kata Boni dengan lantang.
“Apa-apaan kamu! Ayo kembalikan celana ibu sini!”
“Tidak mau,” kata Boni dengan berani. “Aku menyerahkan celana ini kalau ibu mau menuruti semua keinginanku!”
“Awas kamu ya! Nanti ibu hajar kamu! Ibu gak bisa pulang nanti!”
“Biarin saja!” seru Boni tanpa rasa takut. Aku terus-terusan menyemangatinya. “Tenang. Dia akan mengalah nanti,” kataku.
Ibu Boni terdiam sebentar. Ia kemudian berkata lemah, “Baiklah ibu akan
menuruti semua permintaanmu. Ayo kembalikan celana ibu sini.”
Aku dan Boni berteriak penuh kegirangan. “Benar-benar menurut?” Boni berusaha yakin. “Apa pun yang aku mau.”
“Iya apa pun yang Boni mau.”
“Kalau begitu ibu bisa keluar dan mengambil celana ini” kata Boni. “Tenang saja. Tidak ada orang di sini.”
Pintu toilet terbuka. Ibu Boni berdiri di dalam toilet dengan hanya
mengenakan kaos putih dan sempaknya yang berwarna krem. Pahanya jenjang,
dan benar-benar menampakkan kulittnya yang kuning langsat begitu
terlihat serasi dengan pakaian yang ia kenakan. Suaranya terdengar serak
karena habis berteriak-teriak. “Sini kemarikan celana ibu,” bujuknya.
“Tidak mau,” kata Boni sambil mendekap celana ibunya. “Ibu harus
lari-lari keliling lapangan ini tiga kali dulu baru aku mau kasih.”
“Lari?!” Ibu Boni terkejut. “Dalam keadaan begini?”
Aku mendapat ide cemerlang. Aku memanggil mama yang duduk sendirian di
bangku taman. Setelah mama berkumpul bersama kami, aku mengajukan usul:
“Aku mau mama dan Ibu Boni berlomba lari mengelilingi lapangan ini tiga
kali. Siapa yang kalah maka hukumannya ada dua pilihan: pulang gak pakai
baju atau pulang gak pakai celana.”
Mama dan Ibu Boni saling berpandangan.
“Oh iya silahkan buka baju kalian. Tunggu apalagi! Hari sudah semakin gelap!” aku mendesak.
Ibu Boni ternyata lebih berani daripda mama. Ia langsung membuka kaosnya
tanpa basa-basi. Payudaranya yang cukup besar bergoyang pelan saat
bersenggolan dengan tangannya. Boni berteriak kesenangan. Ibu Boni
membuka tali behanya dan melepasnya. Pentilnya padat dan kecokelatan
seperti punya mama, hanya saja aerolanya sedikit lebih lebar. Sekarang
ia benar-benar bertelanjang dada seperti harapan Boni.
“Aaaaah ibu memang hot!” seru Boni.
Mama juga membuka bajunya. Tubuhnya sedikit berkeringat karena suhu
udara cukup panas meski menjelang malam. Ia membuka behanya dan
membuangnya ke tanah. Teteknya menggantung di dadanya karena belum ada
aku hisap seharan ini. Ibu Boni memandang payudara mama seperti merasa
tersaingi.
Agar adil, aku meminta mama untuk melepas celana juga biar sama dengan
Ibu Boni yang cuma memakai sempak. Mereka saling memandangi tubuh
masing-masing dengan perasaan malu.
Mereka berdua mengambil posisi start.
“Satu… dua… tiga… yaaak!” aku memberi aba-aba.
Mama melesat ke depan meninggalkan Ibu Boni di belakang. Aku tidak tahu
kalau mama sangat gesit dalam berlari. Aku dan Boni berteriak
menyemangati mama kami masing-masing. Boni mengibarkan celana ibunya.
“Ayo bu kamu pasti bisa!” teriaknya.
Kami sebenarnya bodo amat dengan hasil lomba. Kami senang melihat tetek
mama kami terguncang-guncang ke atas dan ke bawah saat mereka berlari.
Aku juga ikut-ikutan mengibarkan beha mama seperti yang Boni lakukan.
Tak disangka, stamina mama habis ditengah putaran ke dua. Ia berhenti
sejenak sambil menarik napas dalam-dalam. Kesempatan itu tidak
disia-siakan oleh Ibu Boni. Ia dengan cepat mendahului mama. Mama
berusaha mengejarnya, tetapi sudah terlambat. Ibu Boni sudah berhasil
mengelilingi lapangan itu tiga kali, sedangkan mama hanya mampu dua
putaran saja.
“Dan pemenangnya adalah Ibu Boni!” kataku sambil menyerahkan celana ke Ibu Boni. Ibu Boni langsung
memakainya. Ia juga sudah memakai kaosnya.
“Dan untuk mama yang kalah…” aku menggeleng-gelengkan kepala. “Mama harus pilih antara pulang gak pakai baju atau celana.”
Mama terdiam lama. Jalan menuju rumah cukup jauh. Kedua-duanya sangat
beresiko karena di jam-jam segini mungkin masih banyak orang yang
berlalu-lalang di jalan utama. Ia berpikir keras.
“Kelamaan ma!” bentakku. “Sudah mendung nih, mama pulang gak usah pakai celana aja.”
Mama terkejut. “Tapi mama belum memutuskan…”
“Keputusan juri sudah bulat,” kataku angkuh. “Lepas sempak mama.”
Mama memperhatikan kondisi sekitar. Setelah yakin tidak ada orang lewat,
mama menurunkan sempaknya dan menyerahkannya kepadaku. Boni dan ibunya
memelototi memek mama. Walau sudah melihatnya berkali-kali, memek mama
tetap yang paling menggairahkan. Aku mencium memeknya sebentar sebelum
beranjak pulang. Bulunya yang kasar dan aromanya yang khas membuatku
ingin berlama-lama menciumnya, tetapi hari sudah semakin gelap.
“Bu, gendong aku di belakang,” rajuk Boni. Ibu Boni mengangkat anaknya
dan menaruhnya ke punggungnya. Boni memeluk ibunya sambil meremas-remas
payudara ibunya dari belakang. “Akhirnya bisa pegang tetek ibu juga,”
katanya puas.
Kami berpisah di persimpangan jalan. Boni tak henti-hentinya
berterimakasih kepadaku sebelum menghilang di kegelapan. Sekarang hanya
aku dan mama berdua.
Mama menutupi memeknya dengan kedua tangannya. Kami berjalan di antara
lampu jalan yang bersinar muram. Gerimis perlahan-lahan turun menerpa
kami berdua. Celana dan sempak mama sudah aku lempar ke tempat sampah.
Mama tidak punya alasan untuk memakai celana.
“Ingat ya ma, kalau ada orang yang lihat, mama harus memperlihatkan memek mama,” kataku mewanti-wanti.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, aku terus menyelipkan jari-jariku
ke belahan pantat mama. Di belahan pantatnya ternyata ada sedikit bulu
juga. Aku mencoba menariknya satu helai. “Auw, sakit nak,” seru mama
tertahan. Aku menepuk-nepuk pantatnya yang halus tanpa cela. Kumasukan
jari telunjukku ke lubang pantatnya yang sempit. Mama berhenti berjalan.
“Mama kenapa berhenti? Terusin jalan ma,” perintahku. Mama berjalan
canggung. Kugesek-gesekan jariku di lubang pantatnya sampai terasa
panas. “Hhhhh… hentikan… nak,” rintih mama.
Rumah-rumah di sekeliling kami sudah tutupan semua, kecuali rumah Ibu
Tuti yang masih terbuka pintu depannya. Kucabut jariku dari lubang
pantat mama sebelum ada yang melihat. Terlihat ada sesosok perempuan
gemuk yang sedang memasukkan sepeda motor ke dalam rumah. Ternyata itu
adalah Ibu Tuti. Ia memicingkan matanya saat kami berjalan melintas.
“Astaga aku kira kalian berdua hantu yang muncul maghrib-maghrib gini,”
ujarnya. Ia menatap mama dengan tatapan tak percaya. “Dan kenapa ibu gak
pakai celana seperti itu? Apa urat malu ibu sudah putus?”
“Ini… tadi saat saya buang air kecil ternyata ada yang mengambil celana
saya dari luar toilet,” kata mama. Ia semakin pintar mencari alasan.
“Kalau begitu biar pakai celana saya saja,” kata Ibu Tuti menawarkan bantuan.
“Tidak perlu repot-repot bu,” kata mama.
Aku berdehem keras. Mama segera membuka tangannya dan memperlihatkan
memeknya ke Ibu Tuti. Ibu Tuti terhenyak kaget melihat mama yang sengaja
membuka tangannya.
“Apa-apaan ini bu?!” serunya.
“eh… capek ditutupi terus,” mama kehabisan alasan. Ia seperti menahan tangis.
Bu Tuti buru-buru mendorong sepeda motornya masuk ke dalam rumah lalu
menutup pintu. Mama menutup memeknya dengan kedua tangannya kembali.
Air mata mengalir di pipinya.
“Rumah kita sudah dekat tuh ma,” kataku. Kali ini tanganku
menggesek-gesek memek mama yang hangat. “Yuk sebelum mama kedinginan.”
Home
Cerita Eksibisionis
Para Mama
Penulis Lain
Cerita Eksibisionis Para Mama : Memperbudak Para Mama 3
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar:
Posting Komentar