Petrus sengaja meletakkan satu satu unit pesawat telepon dekat dengan
ruang tamu. Soalnya, suami Inez itu berpikir kalau telepon akan
dibutuhkan kalau-kalau ada keperluan mendadak mereka saat menerima tamu.
Misalnya memesan Pizza ataupun makanan lain melalui layanan pesan
antar, atau bahkan untuk memudahkan mereka untul menghubungi sekuriti
komplek kalau-kalau ada yang berani berbuat kurang ajar dirumahnya .
Namun siapa sangka, saat ini Inez menggunakannya untuk menggertak para
tetangganya dengan berbpura-pura menelepon polisi. Dari balik kaca
mosaik yang membatasi teras dan ruang tamu, sosok Inez yang mengangkat
telepon membuat para bapak-bapak mendadak panik. Celana-celana yang tadi
menggembung pun menjadi rata seketika.
Sementara bapak-bapak lagi lemes takut berurusan dengan polisi, dari
balik pintu ucok malah asyik menggosok kontolnya dari luar celana.
Kontolnya masih ngaceng alias tegang tidak menyadari bahwa
temen-temennya udah tidak lagi ngaceng. Namun bukan berarti ucok ngaceng
dengan pintu utama rumah Petrus itu, semua gara-gara Ucok sempat
melihat paha Inez yang putih yang tersingkap saat pintu terbuka. Bahkan
tidak Cuma kulit paha, samar-samar Ucok bisa melihat garis pantat dan
daging pantat Inez yang tembem juga bulu-bulu hitam yang nongol dari
gembungan ditengah selangkangannya.
“buset ga pake celana!” batin Ucok
Ucok berdesir mengelus celananya dari luar kolor. Angan-angannya buat
ngeliat tubuh Inez tanpa tertutup benang sepertinya akan terkabulkan.
Bidadari komplek yang masih jadi pengantin baru memiliki dua pantat
bulat yang selalu tercetak dari seragam gurunya saat menaiki ojek
membuat teman-temannya sering membicarakannya. Bahkan ada yang sombong
pernah menyentuhnya sampai mengobel-ngobelnya membuat Inez blingsatan.
Tapi tentu saja semua itu hanya Hoax. Inez tidak selalu hati-hati dalam
menjaga tubuhnya agar tidak mengenai para tukang mana mungkin mau
dikobel semudah itu. Dasar tukang bual mesum, mana ada orang yang mau
percaya ceritanya.
Tapi, kalau teman-teman Ucok mengetahui pengalaman Ucok hari ini, mereka
pasti iri jika mengetahui apa yang terjadi pagi Tapi, Ucok enggak cuma
kebagian penampakan paha, pantat jug arambut pubis Inez yang menggoda.
Bulatan berbentuk huruf O tengah-tengah dada Inez membuat Ucok sempat
melihat lembah dua gunung Inez yang juga putih, mulus dan terawat.
Meski cuma sedikit, itu cukup untuk membawa Ucok berkhayal menghisap
susu Inez dari puting yang samar-samar membayang di ujung dadanya.
“selamat pagi bapak-bapak”
“Eh?”
Baru aja Ucok mau coli, Tiba-tiba Ucok dikagetin dengan suara seorang
wanita yang terdengar tegas. Ucok pun blingsatan sebelum berbalik
ketakutan. Sosok waita beramburt pendek yang mengenakan seragam cokelat
menatap kearahnya dengan muka yang memerah. Agaknya, dia menyadari apa
yang sedang Ucok lakukan. Tangan ucok yang masih terselip di dalam
celananya tidak berhenti mengocok kontolnya membuat gerakan-gerakan yang
bahkan membuat nenek-nenek pun ketakutan. Tanpa merasa bersalah, Ucok
semakin mengeraskan kocokannya membuat cewek yang tidak lain adalah
polisi mendadak menunduk malu . Ada kenikmatan tersendiri saat Ucok
membayangkan wajah wanita itu sambil mengocok kontolnya. Apalagi, jika
Inez dan polwan cantik itu mau menyentuh pentungan kecilnya secara
langsung .
Polwan berambut pendek itu berwajah sangat cantik. Mukanya yang
kelihatan lelah ditunjang dengan senyuman manis membuat tubuh yang
ramping dan terkesan tepos mendadak mampu menyaingi Inez yang berwajah
indo dengan dada besar. Kecantikan polwan ini menggambarkan Indonesia
yang memiliki berbagai ragam corak kecantikan dan budaya.
“Buset . .bidadari mana lagi nih?”
Tanpa Ucok dan bapak-bapak lainnya sadari, wajah cewek manis yang
berseragam cokelat kini enggak lagi tersenyum ramah. Bahkan, wajahnya
yang sebelumnya putih dan ayu mendadak menjadi merah hingga terlihat
sampai ke telinganya. Seperti menahan malu, cewek itu kemudian menunduk
dan bersembunyi kembali ke dalam mobil patroili yang dibawanya. Matanya
tanpa sadar tertuju pada tonjolan-tonjolan celana mereka yang mendadak
menggembung lagi begitu melihat polwan itu kembali ke dalam mobil.
“Kontol!”
Polwan dengan panggil Alya menyumpah-nyumpah sambil memejamkan matanya.
tangannya yang lentik berusaha mencubit pahanya yang tersembunyi di
dalam roknya membuat Alya meringis kesakitan. Dalam hatinya, hasratnya
berdesir menyadari perubahan celana para bapak-bapak itu. Ada kebanggaan
sendiri begitu menyadari semua terpesona melihatnya. Apa Alya seorang
yang menderita eskibisionis? Alya matian-matian menolaknya sambil terus
berusha mencubit pahanya dari balik rok seragam polisinya.
“Alya tahan alya, tahan..”
Tidak kuasa menahan birahinya, Alya mulai memainkan lidahnya dari balik
mulutnya yang mungil. Sama seperti Ucok, polwan bernama Alya secara
sembunyi-sembunyi mencoba menggaruk memeknya dari luar pakaiannya yang
ketat. Tapi tidak seperti Ucok, posisinya yang sedang duduk menghalangi
Alya memuaskan nafsunya. Lagipula jia Alya memasukkan tangannya, bukanh
itu memberitahu semua orang dia adalah pelacu*?
Namun mengapa nafsu Alya mendadak bisa naik? Apa mungkin semua gara-gara
ia kesambet setan dari Taman Law**g? Mungkin saja penunggu disana marah
kepada Alya karena menangkap semua waria disana. Tapi bukan hanya Alya
bukan? Ada Padre dan juga Resti dan beberapa polwan lainnya. Tapi
kenapa hanya Alya yang blingsatan seperti ini?
“sshhh”
Alya membatin kesal, roknya terlalu tebal sampai-sampai sodokan-sodokan
tiga jemarinya tidak mampu menenggol klentitnya yang dari dulu sudah
menyembul keluar dari kulupnya. Andai saja tidak ada laporan persekusi
di rumah Petrus, Alya pasti sudah bisa memuaskan gundukan tebal
memeknya dan membuatnya basah dengan dildo 10cm yang selalu dibawanya.
Sayangnya baru dua kali Alya mencelupkannya ke dalam memeknya, laporan
persekusi itu datang memanggilnya. Terpaksalah di tengah birahinya
seperti ini, Alya harus berangkat bersama Padre yang juga sehabis tugas
malam bersamanya.
Sebuah mobil polisi lainnya tiba-tiba berhenti di depan rumah Inez.
Seorang pengendara yang juga bersergagam cokelat kemudian keluar dengan
ekspresi ngantuk seakan-akan baru saja mendapat tugas yang berat. Wajar
saja, karena semalam ia baru saja menggelar operasi malam yang bertugas
menangkap pelaku asusila. Dan sialnya dia meski tidak seperti Alya juga
kebagian sial setelah operasi razia di tempat asusila tersebut.
Sama seperti Alya, tubuhnya juga dimabuk birahi. Awalnya itu bukan
masalah besar kalau saja para waria ini tidak melawan. Tapi mereka yang
nyaris tertangkap mendadak berlari kabur menyebabkan baik Alya maupun
Padre terpaksa harus mengejar-ngejar mereka keluar masuk semak-semak
melintasi empang dan kali yang penuh disekitar situ. Disanalah birahinya
mendapat ujian. Padre, digoda oleh toked-toked palsu para waria dan
tergoda menjamahnya. Bahkan karena keisengannya, setelah mereka selesai
menangkap para waria dan kliennya, Padre terpaksa harus meladeni godaan
mereka yang merasa bahwa Padre naksir kepadanya.
Mau gimana lagi? Dengan tinggi mencapai 185cm dengan tubuh proporsional,
membuat wajah gantengnya semakin terlihat keren dimaata para wanita
apalagi di depan para waria. Apalagi Dengan kancing yang terbuka akibat
kejar mengejar dengan para waria juga tubuhnya yang basah oleh keringat,
membuat Padre seperti obat perangsang pemikat wanita yang berjalan.
Sialnya, ini juga yang membuat para waria malah semakin bersemangat
dikejar-kejar oleh Padre. Tapi dengan stamina yang ditempa oleh ngentot
setiap malam membuat Padre yang sebenernya hobi lari tepaksa KO karena
harus memeras seluruh tenaganya untuk mengejar waria-waria itu. Akhirnya
setelah kecapekan, hanya enam orang yang berhasil ditangkapnya. Itu pun
dengan tubuh Padre memeluk mereka dari belakang.
Alya tersenyum geli membayangkan semua kejadian gila tersebut. Padre
juga sepertinya dengan semalem nakal pura-pura tidak sengaja meremas
toked waria-waria itu membuat mereka menggelinjang geli blingsatan
menikmati tangan kasar Padre yang emosi. Padre juga sepertinya
menikmatinya dari ekspresinya ia seperti tidak merasakan kalau ada yang
tiba-tiba menonjol di bawah tubuh waria yang dijamahnya.
“Uuuh..”
Alya mendadak merasa geli mengingat kegilaan yang terjadi setelahnya.
Setelah Padre dan Alya selesai mengangkut para waira dan membawanya
dengan mobil, Padre dan Alya terpaksa duduk di belakang sambil menanyai
para waria yang terciduk. Mulai dari alamat, ktp dan jenis kelamin semua
dicatat dalam perjalanan pulang menuju kantor. Supaya ketika mereka
sampai kantor mereka sudah bisa tidur dan ga harus lembur lebih lama
lagi sebelum bisa mulai molor.
Sialnya, para waria ini memakai minidress yang begitu pendek. Saat
mereka duduk, Camisol dan lingerie naik sampe ke paha membuat
selangkangan mereka tereskpos sepenuhnya. Beberapa dari mereka mungkin
ada yang sudah operasi sehingga penis mereka sudah tidak berfungsi tidak
lagi kelihatan ngaceng. Namun, salah satu dari waria masih memiliki
kontol yang berfungsi bahkan, dengan ukuran yang besar. Dengan panjang
20cm diameter nyaris 5cm memek siapapun pasti dower menelannya. Sayang
sekali kontol seperti itu ternyata bukan untuk memek wanita.
Alya yang sudah pernah menikmati kontol melihat kontol waria itu dengan
nafas yang memburu. Meski sebelumnya pacarnya hanya memintanya menghisap
kemaluannya, namun Alya pernah merasakan kenikamtan di oral dan
masturbasi. Alya pun sering berfantasi membayangkan kenikmatan yang
katanya lebih enak dari lidah dan tangan itu. Memeknya pun banjir
membuat garis basah di ujung celana dalamnya.
“Ih itu kok anunya gede banget..” ucap Alya tanpa sadar.
“hah itu? maksud mbak kontol saya?” jawab waria yang memiliki kontol besar itu.
“Eh? i.. iya..” jawab Alya dengan dada naik turun.
Alya sudah berharap bisa mencoba kontol waria itu dan tidak lagi
memperdulikan waria-waria lain yang kelihatan bingung. Pikirannya hanya
tertuju pada kontol itu dan hanya kepada batang sepanjang 20cm yang
gagah itu. memeknya terasa banjir, bahkan klentitnya juga gatal
tergesek-gesek dengan celana dalemnya.
“huhuhu.. huhuhu..”
Baru saja Alya dimabuk birahi dan merasakan hampir kehilangan
keperawanannya, mendadak waria dengan kontol besar itu tiba-tiba saja
menangis. Eksrepsinya terlihat sangat sedih dan kesepian membuat Alya
terenyuh dan berusaha menghiburnya. Tangannya pun menggapai paha waria
itu dan membelai-belainya pelan berusaha menenangkan waria dengan kontol
besar yang menangis.
“Maaf mas.. Alya enggak bermaksud..”
“Enggak apa-apa mbak.. Preti.. preti yang salah..”
Waria dengan kontol besar yang ternyata bernama Preti menggeleng.
Sambil mengusap air matanya, tangannya menggenggam jemari Alya dan
mengarahkannya ke kontolnya yang menegang. Sambil menggerak-gerakkannya
naik turun, Preti sepertinya meminta Alya mengocoknya.
“Mbak..” ucap Alya takut.
“Tolong kocokin saya sebentar mbak.. tolong..”
Alya terlihat gusar, apa benar cowok ini seorang waria? Kenapa dia
tiab-tiba meminta Alya mengocok kontolnya? Apalagi.. ngapain juga Alya
ngocokin kontol besar waria itu di tengah jalan raya? Apa kata
orang-orang yang melihatnya nanti. Meski suasana jalanan saat itu sangat
sepi, bukan berarti mereka ga keliatan orang lain kan?
Alya pun melirik ke arah depan dimana terlihat Padre dan seniornya
sedang mengobrol. Mereka nampaknya tidak menyadari Alya yang terjebak
dengan para waria itu. Mereka tidak sadar bahwa polwan yang masih
berusian duapuluhan ini sedang dilecehkan oleh seorang waria yang
mengaku hanya doyan laki-laki. Padre berbaliklah.. Bukankah kau bilang
kau mencintai Alya?
“Mbak! Kalau ga mau kocokin Preti, ga usah nanya-nanya soal kontol preti.”
Waria itu tiba-tiba berteriak dengan kasar kepada Alya. Alya bergidik
ngeri karena mendengar ancaman dari nada bicara Preti yang terdengar
marah. Alya pun mulai ketakutan dan menurut. Tangannya pun bergerak
mengocok kontol berukuran super itu dengan lembut, seperti yang biasa
dilakukannya kepada mantan-mantannya yang dulu.
“E.. enak?” tanya Alya takut-takut.
Namun Preti waria itu tidak menjawab. Dia nampak melamun sambil
menikmati setiap sensasi geli yang menjalar keseluruh tubuhnya dengan
nikmat. Sudah lama preti tidak merasakan sensasi hangat dari tangan
wanita mengocok kontolnya. Biasanya, Kalau sudah kepepet setelah
beberapa hari enggak mendapat pelanggan, Preti paling hanya minta kepada
teman-temannya buat menghisap kontolnya di dalem mulut mereka.
Sayangnya karena tangan mereka kasar dan kaku, Preti jarang mendapat
kenikmatan seperti yang diberikan Alya malam ini.
“Lebih enak dari perempuan jalang itu..”
“Eh?”
Alya kaget mendengar bisikan ucapan pendek Preti. Wanita jalang? Kenapa
waria ini tiba-tiba mengucapkan kata-kata soal wanita jalang? Tapi Alya
tidak berani bertanya, Ekspresi Preti saat ini terlihat penuh dengan
amarah seperti terkenang pengalaman buruknya dulu. Alya Cuma bisa terus
mengocok kontolnya sampai tangannya pegal dan tidak kuat lagi meladeni
waria bernama Preti itu.
Lima belas menit pun berlalu, Alya yang masih mengocok kontol waria itu
mulai bisa merasakan kalau kontol waria ditangannya berkedut-kedut mau
muncrat.
“Mas.. eh mbak.. udah ya.. udah mau keluar.. mbaknya ga boleh ngotorin mobil ini” ucap Alya pelan.
Alya menarik nafas lega karena berpikir sudah tidak perlu mengocok
kontol Preti lagi. Namun ternyata Alya salah. Preti malah ngelunjak
dengan berkata,
“Kalau tolong dong mbak masukin kontol aku ke dalem mulut mbak..”
“Eh? kok.. kok begitu?” jawab Alya panik.
“Aku kayaknya udah mau muncrat nih mbak..katanya kita-kita ga boleh
ngotorin mobil, mending di dalem mulut mbak atau saya keluarin di dalem
mobil? ”
“ta.. tapi..”
“Lho kan mbak yang mau ngocokin kontol saya sampe mau keluar.. berarti semua salah mbaknya kan?”
“ta.. tapi..”
“Udah mbak mau apa enggak?”
Preti muali berteriak membuat Alya terlihat panik. Ia bisa melihat Padre
dan seniornya menoleh kebelakang dan menyadari kalau waria bernama
Preti itu sedang mengancam Alya. Alya mendadak senang dan tangannya pun
berhenti mengocok kontol preti yang sebenernya tinggl sedikit lagi
sebelum klimaks.
“Pad.. mmmphh” teriak Alya.
Baru saja Alya hendak berteriak meminta tolong, tangan Preti mendadak
masuk kedalam roknya dan menggenggam klentit Alya yang menonjol dari
balik celana dalamnya. Klentit yang sudah sering dikerjain oleh dirinya
dan mantan-mantannya sudah membesar membuatnya berukuran segede kacang
merah tidak lagi terlindung bibir memeknya. Berbeda dengan klentit
perawan yang sensitif dan gampang terasa sakit, klentit Alya berisi
syaraf-syarf kenikmatan yang suka diperlakukan kasar.
“Gue putusin klentit lo atau lo diem dan nurutin perintah gue!”
Preti berbisik pelan membuat Alya pucat pasi.
“Al kenapa? Kenapa lo kok tiba-tiba diem?” ucap padre kedengeran khawatir.
Tapi Alya ga bisa melihat ekspresi Padre. Tubuh Preti yang besar
menutupi kaca sehingga Alya tidak bisa ke depan lagi. Alya terpojok dan
sepertinya tidak punya pilihan lain.
“Alya lo pilih klentit lo putus atau lo ceritain kalo lo ngocokin kontol waria..”
Hati kecil Alya berbisik memberikan pilihan yang sulit. Untung saja hanya ada satu jawaban yang benar.
“Enggak apa-apa dre.. pulpen gue jatoh.. mbak.. mbak Preti mau nolongin cuma masih agak susah..”
“be.. begitu Al? Beneran begitu?”
“I.. iya..”
“Udah ya dre..”
Alya pun menunduk berusaha menempelkan wajahnya ke atas bangku. Namun
sebelum kepalanya benar-benar menempel, Padre bisa melihat kepala Alya
terganjal oleh selangkangan waria yang berwajah seram itu. Namun Padre
tidak bisa melihat secara jelas. Ia hanya bisa melihat tangan Alya yang
telihat menggapai-gapai lantai berusaha mencari-cari sesuatu yang
sepertinya berserakan di atas lantai mobil.
Hanya saja, sebelum tertutupi oleh waria itu, Padre sempat melirik
bayangan kepala Alya dari pantulan sinar lampu jalanan. Samar-samar ia
melihat Alya menelan sebuah benda sebesar pentungan satpam yang
mengacung tegak tepat di tengah-tengah pangkuan waria itu. Namun, karena
hanya sekilas, Padre menganggap itu cuma bayangannya saja. Apalagi Alya
masih bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apapun. Apa mungkin
padre harus cemburu dengan waria?
Meski begitu, bayangan Alya menelan tonjolan di selangkangan waria itu
kini mulai menghantui Padre. Bahkan fantasinya itu membuat padre tidak
bisa tidur dan selalu blingsatan memikirkan Alya. Apalagi pagi harinya
saat tugas datang memanggil mereka berdua ke rumah Petrus. Alya
kelihatan menggoda dengan beberapa kancing dan ekspresinya yanterlihat
berantakan. Padre pun diam-diam berharap melihat Alya benar-benar
menelan tonjoloan diselangkangan yang ga lain adalah kontol. Namun bukan
kontol waria itu, tapi kontolnya yang selalu ia banggakan didepan semua
orang yang dipaarinya.
“Dulu aku penyuka wanita mbak..”
Sementara Padre sibuk melamun, Alya terlihat mulai menciumi jemarinya
yang terlihat ternoda oleh sisa-sisa lendir yang mengering. Ada sedikit
sisa-sisa peju Preti yang tersisa menempel ditangannya yang didapatnya
saat ia membersihkan sisa-sisa peju yang meleleh ke pipinya. Setelah
Alya menempelkan kepalanya ke selangkangan Preti, Alya tidak
menyia-nyiakan kesempatan itu dengan menelan kontol super sepanjang 20cm
milik Preti menuruti keinginan waria itu yang kelihatan tidak peduli
dengan keadaan sekitar apalagi terhadap kehormatan Alya yang
terlecehkan.
“Telan mbak.. telen semuanya..”
Merasa tidak puas, Preti terus saja menekan kepala Alya berusaha membuat
kontolnya tertelan seluruhnya oleh mulut mungil Alya membuat Alya
merasa kewalahan. Alya yang baru pertama kali menerima deepthroat tentu
saja mendadak panik dan tercekik, sayangnya dalam posisi membungkuk dan
lemes seperti itu ia tidak bisa lagi melawan Preti yang tenaganya
ternyata sangat kuat. Alya cuma bisa pasrah menerima dorongan kontol
Preti yang tidak berhenti mencoba meloloskan kontol setebal lima senti
itu ke dalam tenggorokannya.
“mmmhhh mphhhh”
Alya mencoba berteriak meminta tolong. Sayangnya kontol Preti dan
posisinya yang membungkuk membuat suara Alya nyaris tidak keluar. Bahkan
sisa-sisa desahan alya dan bunyi becek dari air liur Alya dan keringat
dari kontol Pretitertutup oelh suara musik dari radio yang disetel oleh
Padre dan seniornya. Jadilah Alya digangbang sendirian di tengah jalan
tanpa diketahui satu orangpun teman-temannya.
Untung saja lima orang waria lainnya tidak ikut bergabung melecehkan
Alya. Selain disebabkan oleh orientasi seksual mereka yang menyimpang,
tidak tertarik dengan tubuh Alya yang kurus, mereka ternyata juga takut
kepada Preti yang Alya ketahui belakangan dikenal kasar di tempat
kerjanya. Preti yang sedang horni tidak segan-segan menganiaya temannya
memaksa para waria-waria itu merelakan mulut dan pantat mereka secara
cuma-cuma untuk sekedar jadi tempat pembuangan pejunya yang berlebih.
Namun Alya masih belum mengetahui semua itu, yang ia rasakan hanya rasa
takut diperkosa oelh orang-orang yang kini tengah mengelilinya. Ia
tidak menyangkan kalau pengalaman pertamanya dilecehkan saat bertugas
ternyata malah dilakukan oleh para waria. Ia tidak menyangka dari sosok
yang terlihat lucu dimatanya menyimpan teror yang membuatnya tidak bisa
melupakannya disepanjang sisa hidupnya.
“mmmphh...”
Alya tiba-tiba terlonjak kaget merasakan sebuah belaian kasar tepat di
atas kulit payudaranya yang tertutup di dalam seragam. Ternyata Preti
yang tidak seperti waria yang biasa sudah menelusupkan satu tangannya
memainkan puting Alya yang tersembunyi dalam BH ukuran 34A miliknya.
Benar toked Alya yang berukuran kecil terkesan seperti papan ternyata
memudahkan Preti bermain di daerah sekitar dada Alya, memancing nafsu
Alya yang ternyata memiliki puting yang sensitif. Alya pun hanya bisa
takluk dalam dekapan waria bernama preti itu. Ia hanya bisa berharap
Preti cepat keluar sehingga ia bisa terbebas dari siksaan ini.
“cek.. cek.. cek..”
“ngnhh mmpphh mmpph”
Suara persetubuhan dua insan ini hanya dihiasi oleh suara desahan-densan
Alya. Tidak terdengar kata seperti lont* pelac*** bahkan anj*ng yang
biasa nongol di cerita-cerita panas biasanya. Preti sadar kalau ia
kelepasan bicara seperti itu, maka timah panas bisa saja menembus
otaknya membuat tidak lagi bisa berbicara lagi apalagi sampe ngomong
kata-kata kotor seperti itu. lagipula kocokan deethroat Alya terhadap
kontolnya..
“ga enak! Lont* sialan kalo Cuma megap-megap ga usah lo kocokin gue kaya gini! ”
Namun Preti udah kepalang basah amu minta dikocokin pake tangan lagi.
Tau begini, Preti lebih memilih kocokan tangan Alya yang diakuinya sudah
setara lonte profesional. Bahkan diantara temen-temennya di tempat
kerjanya sekarang, kocokan Alya bisa dibilang nomor satu menunjukkan
betapa enaknya di kocok dengan tangannya.
Namun siapa sangka? Alya sebelum sama sekali belum pernah mencoba posisi
deepthroat. Bahkan enggak uma deepthroat, posisi doggy style dan
missionaris yang tergolong posisi stadar dalam ngentot Alya ga terlalu
ngerti. Semua karena Alya takut keperawanannya terenggut yang membuatnya
tidak bisa memasuki kepolisian mengikuti jejak kedua orangtuanya.
Namun sayangnya Alya ternyata tetap saja nakal. Sudah tiga orang
mantannya menikmati puting susunya bahkan menikmati kocokan dan bibir
Alya yang ranum. Padahal, kalau saja Alya tidak pernah mau menurut
keinginan mereka untuk menghisap dan menikmati tubuhnya, mungkin semua
ini tidak akan terjadi. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Alya haus terima
diperkosa oleh seorang waria dan merelakan keperawanan mulutnya
terenggut oleh kontol besar yang berukuran sepanjang 20cm!
“mmphh.. mmphh..”
Belakangan Alya mati-matian menahan nafsunya suapaya tidak sampai
mengeluarkan suara berisik yang membuatnya ketahuan teman-teman di
bangku kemudi. tapi itu malah membuat preti semakin gencar mengerjainya.
Tiga kancingnya sudah terbuka bahkan BHnya sudah bergeser
memperlihatkan puting dan sedikit tonjolan dada Alya yang menegang.
Meski Alya tidak bisa dikaakan menikmatinya, namun birahinya yang
terbakar melalui rangsangan tangan preti pada putingnya membuat Alya
banjir dan mendapat orgasme kecil yang membuatnya lemes.
“lont* bangs**!”
Bentak Preti dalam hatinya. Preti sebenarnya juga tidak menikmati
persetubuhannya dengan Alya. Meski begitu, Preti yang sudah diliputi
nafsu tetap saja memaksa untuk memuntahkan peju ke dalam mulut Alya
malam itu. Ada kepuasan tersendiri baginya yang bisa menodai cewek
cantik seperti Alya itu yang menurutnya hanya lont* dalam pakaian polisi
sekana kelaitan alim.
Dulunya Preti ternyata adalah seorang preman. Namun tidak seperti
preman-preman biasanya yang terkesan serem, Preti berwajah tampan yang
membuatnya biasa menikmati banyak janda-janda dan gadis-gadis yang tidak
punya uang untuk membayar jasanya. Setiap dia melakukannya, pasti semua
wanita yang ditidurinya memeknya bengkak yang membuat mereka tidak bisa
berjualan selama seminggu.
Preti sempat menikmati kehidupan bergeliman guang dan harta seperti itu.
meski kadang datang bebrapa tantangan untuk yang disebabkan perbeutan
wilayah, Preti mampu mengalahkan mereka semua bahkan sampai meniduri
istri-istri para penantangnya didepan mereka membuat Preti menjadi
disegani dan takuti bahkan oleh temannya sendiri.
Anehnya reputasi Preti yang terkenal kejam juga memancing banyak orang
mengikutinya. Dalam tempo beberapa bulan kelompoknya menjadi besar
bahkan mencapai delapan puluh orang. Semuanya berharap mempelajari
rahasia Preti dan berharap mewarisi ilmu preti yang terkenal jago
menggagahi wanita.
Sayangnya ilmu Preti hanya bisa dikuasai olehnya. Selain jago memancing
birahi wanita, Preti juga memiliki kontol sepanjang 20cm yang selalu
meaakhiri setiap kegiatan seksnya. Para pengikutnya yang sudah terlanjur
memiliki kontol kecil hanya bisa pasrah meski tidak pernah tau apa
rahasia preti.
Preti selalu bertualang dari satu wanita menuju wanita lainnya. Sampai
suatu hari ia tergila-gila dengan seorang mahasiswi yang berwajah cantik
dengan tubuh yang ramping ala cewek-cewek kota. Preti yang terbiasa
dengan cewek-cewek desa yang berdada besar dengan paha yang gemuk
mendadak penasaran dengan mahasiswi bertubuh ramping ini. Dengan sedikit
pendekatan ala penjahat kelamin ga butuh waktu lama bagi Preti tidur
dengan mahasiswi itu bahkan sampe nyemprot di dalam.
Namun, sejak kejadian persetubuhan itu, mahasiswi ini ternyata terus
saja menghindari Preti. Setiap kali Preti datang selalu saja ada alasan
untuk menjauhi preti. Preti yang biasa mencampakkan wanita mendadak
merasa tidak terima. Hasratnya menikamti tubuh mahasiswi itu berubah
jadi cinta yang selama ini tidak pernah dipikirkannya.
Namun disaat itulah semuanya terjadi. Tiga hari sebelum kepergian
mahasiswi itu, Preti datang membawakan bunga bermaksud melamar gadis
pujaan hatinya. Ia sudah memutuskan mencintai seorang wanita dan
memutuskan ingin bersamanya. Hatinya berbunga-bunga dengan semua
khayalan indah merajut rumah tangga dalam ikatan janji yang suci.
Namun yang ditemukannya bukan mahasiswi yang ketakutan setelah melakukan
perbuatan dosa bersamanya. Dalam gubuk yang disediakan Pak Kades, ia
hanya melihat seorang pelacu* yang sibuk merengguh kenikmatan dari
pangkuan kades yang dikenal buncit. Bersama dengan tiga orang pelacur
wanita lainnya, mereka berkelojotan mencari kontol-kontol perkasa yang
siap memuaskan memek mereka.
“apa-apaan ini!” bentak preti yang saat itu masih terlihat jantan.
Dengan tubuh kekar ia mendobrak masuk dari pintu depan membuat keributan
dihadapan sepuluh orang yang sedang melakukan pesta seks itu. Sepuluh
orang itu semuanya terkejut, terutama mahasiswi pujaan Preti yang
mungkin saja dihamilinya sebelumnya.
“Pak kades! Belum cukup istri sampeyan saya entot sampe bengkak memeknya?”
Preti membentak sambil menunjuk wajah Pak Kades yang cuma melongo merasa
kentang karena gagal mencrot didalem tubuh mahasiswi calon istri Preti.
Dengan suara terdengar berwibawa Pak Kades akhirnya membalas ucapan
preti dengan berkata,
“Sampeyan mau toh? Ayo sini tak sama-sama ngentotin mahasiswi-mahasiswi
ini. Enak tho berbagi.. Sini cobai Preti yang memeknya peret..”
Pak kades yang sudah jiper melihat ekspresi Preti yang melotot mulai
menawarkan mahasiswi dalam pangkuannya. Merasa sudah bisa mengendalikan
keadaan, Pak Kades merasa bisa menyuap Preti dengan mahasiswi-mahasiswi
kota yang dikenal putih-putih. Sialnya pak Kades salah dan malah membuat
hati Preti semakin panas. Sayangnya ga cuma Pak kades yang buat preti
tambah marah.
“preti ga mau om.. kontol anj**ng kampung itu gede banget! Sakit! “ jawab mahasiswi dalam pangkuan pak kades.
“Kok Preti ngomong begitu? Aduh kang.. ****** maaf ya kang mulut Preti
lancang.. tapi ga apa-apa kang, masih ada yang lain.. silahkan aja pilih
yang sampeyan suka ”
“Ih masa temen-temen Preti disuruh ngentoti kontol kuda om? Jangan mau! Sakit..”
Hanya itu kata-kata mahasiswi itu yang Preti dengar. Karena entah
bagaimana pandangan Preti berubah gelap. Sampai beberapa menit kemudian
saat ia kembali tersadar semua lelaki yang ada digubuk itu sudah
terkapar tidak sadarkan diri sedangkan tiga mahasiswi termasuk orang
yang dicintanya meringkuk ketakutan dengan tubuh telanjang bulat
berlumuran peju yang pastinya berasal dari para laki-laki.
“Apa mau lo! Gue ga mau ngentotin lo! terus lo mau apa?” teriak mahasiswi incaran Preti.
“Jangan mentang-mentang lo preman lo bisa..”
“cukup!” Preti membentak dengan marah.
Mahasiswi itu menyumpah-nyumpah tidak takut dengan Preti yang berstatus
preman. Namun Preti yang saaat itu masih preman tentu enggak terima
dibentak-bentak apalagi sama seorang cewek, meskipun orang tersebut
adalah cewek yagn dia sayang. Sebelum mahasisiwi itu menyelesaikan
ucapnnya, Preti membentaknya membuat mahasiwi itu diam. Dengan ekspresi
penuh kemarahan, preti pun mulai mendekati wanita yang dicintainya dan
berdiri dihadapnnya sambil memukul-mukulkan kontolnya kemuka mahasiswi
cantik itu. ia mau menujukkan siapa yang lebih berkuasa di desa ini
kepadanya.
“preti hi..”
“cuih! ”
Kali ini sebelum Preti menyelesaikan ucapannya, mahasiswi cantik itu
tiba meludah ke arah kontolnya.Kontol yang sudah tegang itu pun
berlumuran air liur dan juga peju pak kades yang muncrat dari dalam
mulut mahasiswi itu. Mahasiswi itu ternyata sudah memBJ Pak kade bahkan
menelan penjunya seperti vitamin untuk kecantikan.
“breng***s ”
Preti pun tanpa menunggu waktu lagi segera menindih mahasiswi itu dan
menekan tubuhnya diatas tubuh wanita itu. Preti bisa merasakan penolakan
mahasiswi itu dan merasakan kehangatan dari pertemuan dua kulit mereka.
Mahasissi itu keliatan sangan ketakutan meski maish terlihat mencoba
melawan.
“Preti udah! dengerin akang”
“Cuih!” mahasiwi itu meludah dan kali ini mengenai wajah preti yang
keliatan kaget. Mata Preti mendadak memerah sepeti darah. Lagi-lagi ia
gelap mata dan mulai melancarakan aksinya.
“mmmmmphhh”
Dengan sedikit memaksa, preti mencumbu mahasiswi itu melumat lidahnya
memuntahkan air liurnya dalam tubuh wanita itu. mahasiswi itupun
gelagapan meski ia masih mencoba mendorong Preti menjauh dari tubuhnya.
Sepertinya mahasiswi itu benar-benar trauma dengan persetubuhannya
dengan Preti. Kalau tidak, bagaimana mungkin Preti mau main dengan Kades
buncit itu bahkan sampai mau menelan semua pejunya.
“huhuhu.. huhuhu..”
“Udah entot aja gue! Entot aja sepuas lho huhuhu ”
“Gue udah ga peduli mau memek gue bengkak masa bodo! Entotin gue anj*ng! ”
Preti pun hendak menampar mahasiswi itu yang tidak menyadai iapa isi
hatinya. Tapi hati mereka sepertinya sudah tidak bisa dipersatukan lagi.
Kali ini Preti sadar dengan seua yang dilakukannya. Apakah ini hukuman
karena selalu bermain dengan wanita lain? Semua wanita yang dikenal
cantik dikampungya dengan toekd-toked penuh susu yang menggoda?
Namun bukan preti kalau maslaah ini membuat kontolnya menciut. Haya saja
sebelum mencrot, kontolnya tidak akan pernah berhenti tegang. Preti
saat ini kontolnya memutuhkan pelampiasan semua perasaannya. Tapi para
mahasiswi itu bukan pilihan baginya. Baginya hanya ada satu pilihan
untuknya, satu tempat yang bisa dipakainya menumpahkan spermanya yang
kental.
Sejak hari itu, Preti lari dari kampungnya meninggalkan kelompok preman
yang dipimpinnya. Hal tersebut membuat banyak perubahan dan perbaikan di
desa itu. Dalam waktu tiga hari itu pak Kades yang sudah menjabat
bertahun-tahun mendadak mengundurkan diri dari jabatannya diliputi
dengan tanga tanya. Bahkan para mahasiwi dan mahasiswa mendadak juga
pergi sebelum waktu tiga hari masa tugas mereka selesai. Semua itu
menimbulkan gosip seantero kampung yang membuat geger. Semuanya mulai
mengaitkan tiga kejadian besar itu dan membuat gosip-gosip yang bertahan
samapi puluhan tahun yang akan datang.
Warga kampung mengira-ngira terjadi skandal yang melibatkan mahasiswi
dengan preman dan kades. Dari cerita yang beredar sepertinya mereka
menghamili salah seorang anak pejabat penting yang membuat keselamatan
pak Kades dan Preman desa itu terancam. Namun tidak ada bukti yang bisa
menjelaskn hal tersebut. Satu-satunya saksi yang tersisa hanya mantan
Pak kades yang selalu kelihatan kesakitan saat duduk dan berjalan.
Seakan-akan ada sesuatu mengganjal dalam pantatnya yang membuatnya tidak
bisa lagi berjalan normal
“mbak.. mbak.. bangun mbak..”.
Alya tersentak kaget merasakan ketukan pada jendela mobilnya.
Tersadarlah Alya kalo dia ketiduran saat lagi bertugas gara-gara
ngantuk. namun yang lebih membuatnya syok, diluar mobilnya terlihat
bapak-bapak mengepung hanya dengan berbalut kolor. mendadak Alya
bergidik ngeri kalo inget kontol-kontol besar yang mempekosa mulutnya
semalam.
“Ya ampun aku ketiduran?”
“Tapi mimpi apa itu barusan? kok aku rasanya kayak beneran?”
Home
Cerita Eksibisionis
Cerita Eksibisionis Inez
Penulis Lain
Cerita Eksibisionis Inez : Petrus's Wife Humiliation 6
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar:
Posting Komentar